Tidak semua rasa kepada ayah mudah diucapkan secara langsung. Bagi banyak orang, ayah adalah sosok yang bekerja dalam diam—hadir tanpa banyak kata, namun membentuk hidup dengan keteguhan dan tanggung jawab.
Puisi tentang ayah sering menjadi cara paling jujur untuk menyampaikan rasa terima kasih, rindu, bahkan penyesalan yang tidak sempat diucapkan. Di halaman ini, kamu akan menemukan kumpulan puisi tentang ayah dari penyair ternama Indonesia yang menyimpan makna mendalam, reflektif, dan relevan untuk berbagai momen.
Puisi-puisi ini tidak hanya layak dibaca secara personal, tetapi juga sering digunakan sebagai bacaan tugas sekolah, refleksi Hari Ayah, atau pengingat sederhana tentang peran ayah dalam keluarga.
Kumpulan Puisi tentang Ayah dari Penyair Ternama
Puisi-puisi berikut ditulis dengan sudut pandang yang beragam: sebagai anak, sebagai pengamat, dan sebagai manusia yang mencoba memahami makna seorang ayah. Sebagiannya menggambarkan ayah sebagai pelindung, sebagian lain sebagai kenangan, dan tidak sedikit yang memotret relasi ayah-anak secara jujur dan apa adanya.
1. Pahlawan Kesuksesanku - Ardiyani Muninggar
Fajar telah menyapa pagiku
Kau jadikan hari mu, hari untuk pengorbanan
Pengorbanan mencari rezki, pengorbanan untuk mencari awal yang baru
Kau ajarkan aku arti perjuangan, kau ajarkan aku arti kesuksesan
Ayah mungkin tanpa mu aku tidak bisa seperti ini..
Mungkin tanpa mu aku tidak bisa berdiri di tengah-tengah impianku..
Impian untuk meraih keberhasilan
Impian untuk mencapai kemenangan…
2. Akulah si Telaga - Sapardi Djoko Damono
Akulah si telaga: belayarkan di atasnya;
Berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
Berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
Sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja—
Perahumu biar aku yang menjaganya
3. Mata Hitam - WS Rendra
Dua mata hitam adalah mata hati yang biru
Dua mata hitam sangat kenal bahasa rindu
Rindu bukanlah milik perempuan melulu
Dan keduanya sama tahu, dan keduanya tanpa malu
Dua mata hitam terbenam di daging yang wangi
Kecantikan tanpa sutra, tanpa pelangi
Dua mata hitam adalah rumah yang temaram
Secangkir kopi sore hari dan kenangan yang terpendam
4. Setiap Ayah - Alex R. Nainggolan
Di tubuh setiap ayah
Akan ada jalan pulang
Rumah yang bagai selimut
Dari kepala yang kusut
Telah ku gali-gali
Tangis yang kecut
Dan terduduk di sudut
Segala sesal yang sampai sekarang
Hanya tertunduk
Maka aku ingat ayah
Setiap percakapan
Yang abai kutafsirkan
Lalu ayah mengerubung
Si setiap hari
Bahkan bertahun setelah dirinya pergi
Di setiap mata ayah
Selalu ada kegembiraan
Meski hanya sebentar
Bertemu
Atau percakapan yang biasa saja
Dengan anaknya
5. Di Kuburan Ayah - Slamet Sukirnanto
Berteduh pohon kamboja berkembang
Tinggalmu yang kekal
Tak kenal lagi senyummu
Memikat hatiku
Ketika masih kanak
Bukan segunduk tanah
Kupuja. Kerna diharamkan agama
Adalah hidupmu
Mengenang di kalbu!
6. Kepada Bapak - Gunoto Saparie
Ada peci putihmu tergantung di kapstok
Bertahun-tahun di sana sejak kau pergi
Namun jarum-jarum jam dinding berhenti
Dan kalender di tembok pun mendadak rontok
Ada potretmu mengabur di dekat pintu
Ada senyum tipis membayang harapan
Betapa berat rindu, bapak, tersendat di kalbu
Selalu kuingat kata-katamu tentang kehidupan
Tentang negara, agama, dan pengabdian
Kata-kata yang patah-patah, tertahan-tahan
Kami tak tahu, ternyata untuk yang penghabisan:
Ada sandalmu teronggok di ujung ranjang
Ada buku-bukumu, kitab-kitab menguning
Berjajar di rak, terserak di meja lantai
Ada yang tertinggal di hati Allah, kasihmu abadi
7. Ayah - Syamsu Indra Usman
Ayah
Berilah aku sekendi air dingin
Bila datang kemarau panjang
Dalam aku menggapai cita-cita
Yang kau ikat pada tonggak
Kekerasanmu
Ayah
Berilah aku jalan untuk memilih
Jalan kebebasan untuk mendaki
Tangga yang selama ini kau belenggu
Kau tau dalam diriku mengalir darah seni
Yang haus keindahan memilih jalanku sendiri
8. Untukmu Ayahku - Dina Sekar Ayu
Di keheningan malam
Datang secercah harapan
Untuk menyambut jiwamu datang
Sebercik harapan agar kau kembali pulang
Hanya sepenggal kata bijak yang bisa kutanamkan
Duduk sedeku, tangan meminta, mulut bergoyang, jatuh air mata
Tapi apalah daya
Semua harapan hilang sirna
Karena kau telah tiada
Ayahku tercinta
9. Ayah Terhebat - Dinda Nursifa
Beruntungnya aku memiliki ayah sepertimu
Semua yang engkau lakukan memberikan contoh yang baik
Selalu sabar dan penyayang pada keluarganya
Berdiri paling depan untuk kebenaran
Engkau adalah ayah terhebat…
Rasanya tak pernah kau tunjukan wajah sedih
Senyum dan tawamu selalu terlihat dari bibirmu
Engkau selalu menebar kebaikan pada semua orang
Semangatmu pun tak pernah padam
Aku sayang sekali, wajah ayahku.
10. Orang Kecil Orang Besar - KH A Mustofa Bisri
Suatu hari yang cerah
Di dalam rumah yang gerah
Seorang anak yang lugu
Sedang diwejang ayah-ibunya yang lugu
Ayahnya berkata:
“Anakku,
Kau sudah pernah menjadi anak kecil
Janganlah kau nanti menjadi orang kecil!”
“Orang kecil kecil peranannya
Kecil perolehannya,” tambah si ibu
“Ya,” lanjut ayahnya
“Orang kecil sangat kecil bagiannya
Anak kecil masih mendingan
Rengeknya didengarkan
Suaranya diperhitungkan
Orang kecil tak boleh memperdengarkan rengekan
Suaranya tak suara.”
Sang ibu ikut wanti-wanti:
“Betul, jangan sekali-kali jadi orang kecil
Orang kecil jika jujur ditipu
Jika menipu dijur
Jika bekerja digangguin
Jika mengganggu dikerjain.”
Ayah dan ibu berganti-ganti menasehati:
“Ingat, jangan sampai jadi orang kecil
Orang kecil jika ikhlas diperas
Jika diam ditikam
Jika protes dikentes
Jika usil dibedil.”
“Orang kecil jika hidup dipersoalkan
Jika mati tak dipersoalkan.”
“Lebih baik jadilah orang besar
Bagiannya selalu besar.”
“Orang besar jujur-tak jujur makmur
Benar-tak benar dibenarkan
Lalim-tak lalim dibiarkan.”
“Orang besar boleh bicara semaunya
Orang kecil paling jauh dibicarakan saja.”
“Orang kecil jujur dibilang tolol
Orang besar tolol dibilang jujur
Orang kecil berani dikata kurangajar
Orang besar kurangajar dikata berani.”
“Orang kecil mempertahankan hak
disebut pembikin onar
Orang besar merampas hak
disebut pendekar.”
Si anak terus diam tak berkata-kata
Namun dalam dirinya bertanya-tanya:
“Anak kecil bisa menjadi besar
Tapi mungkinkah orang kecil
Menjadi orang besar?”
Besoknya entah sampai kapan
si anak terus mencoret-coret
dinding kalbunya sendiri:
“O r a n g k e c i l ? ? ?
O r a n g b e s a r ! ! !”
Membaca puisi tentang ayah sering membawa kita pada ingatan dan perenungan pribadi. Bagi sebagian orang, puisi menjadi cara paling jujur untuk memahami peran ayah tanpa harus merangkainya dalam kalimat panjang.
Jika kamu membaca puisi-puisi ini dalam rangka memperingati Hari Ayah, kamu bisa memahami konteksnya lebih dalam melalui artikel Hari Ayah Nasional & Internasional: Makna, Peran Ayah, dan Ucapan Hangat.
Jika Ingin Membaca Versi Lain tentang Ayah
Puisi sering membawa kita pada perenungan yang lebih dalam dan personal. Namun, tidak semua orang nyaman mengekspresikan perasaan lewat puisi. Bagi sebagian pembaca, ungkapan singkat atau refleksi keluarga justru terasa lebih dekat.
1. Kata Hari Ayah (untuk ungkapan singkat)
Untuk kamu yang mencari ungkapan singkat selain puisi, tersedia juga kata-kata Hari Ayah yang bermakna dan mudah dibagikan.
2. Ayah dalam Konteks Keluarga
Peran ayah tidak terpisah dari dinamika keluarga. Refleksi tentang peran ini juga bisa kamu temukan dalam Hari Keluarga Nasional: Makna dan Ucapan Tentang Keluarga Indonesia.
Penutup
Puisi tentang ayah sering kali tidak menawarkan jawaban, melainkan ruang untuk mengingat, memahami, dan berdamai dengan perasaan kita sendiri. Dalam setiap baitnya, ada keteguhan, jarak, rindu, dan cinta yang tidak selalu terucap.
Semoga kumpulan puisi ini bisa menjadi pengingat sederhana bahwa peran ayah—baik yang hadir, telah pergi, maupun yang dikenang dalam diam— tetap hidup dalam kata dan kenangan.
Posting Komentar untuk "10 Puisi tentang Ayah dari Penyair Ternama, Penuh Makna!"