Isra Miraj kerap diperingati sebagai peristiwa besar dalam sejarah spiritual Islam. Namun di luar kisah perjalanan yang agung, ada pesan inti yang sering kehilangan daya korektifnya dalam kehidupan sehari-hari: bagaimana sholat seharusnya ditempatkan di pusat hidup, bukan di pinggirnya.
Persoalan sholat di zaman ini bukan terletak pada pengetahuan. Hampir semua orang tahu kewajibannya, hafal waktunya, dan paham ancamannya. Masalahnya lebih subtil dan jarang dibicarakan: sholat tidak lagi ditempatkan sebagai pusat pengatur hidup, melainkan sebagai aktivitas yang menunggu ruang kosong.
Dalam peristiwa Isra Miraj, sholat justru hadir dengan posisi yang berlawanan. Ia tidak diturunkan sebagai tambahan, tetapi sebagai poros. Bukan mengikuti ritme hidup manusia, melainkan membentuk ritme itu sendiri.
Isra Miraj dan Hirarki Waktu
Isra Miraj mengajarkan satu prinsip mendasar: waktu bukan sekadar alur netral, tetapi sesuatu yang harus ditata. Lima waktu sholat bukan pembagian teknis, melainkan struktur. Dalam struktur itu, aktivitas lain seharusnya menyesuaikan diri.
Yang terjadi hari ini sering kali terbalik. Agenda kerja diperlakukan sakral, jadwal makan dijaga ketat, waktu istirahat dipertahankan. Sholatlah yang paling mudah dipadatkan, digabungkan, atau ditunda, seolah fleksibilitasnya tidak berdampak apa pun pada kualitas hidup.
Kesibukan Sebagai Pilihan, Bukan Sekadar Keadaan
Kesibukan kerap diposisikan sebagai alasan objektif. Padahal, sebagian besar kesibukan lahir dari pilihan: target yang diperbanyak, ritme yang dipercepat, dan kebiasaan yang tidak pernah ditinjau ulang. Dalam konteks ini, sholat tidak benar-benar ditinggalkan, tetapi secara perlahan diturunkan prioritasnya.
Pesan ini sebenarnya berulang kali muncul, baik melalui pengingat lisan maupun kata-kutipan Isra Miraj yang setiap tahun dibagikan. Namun sering kali pesan berhenti sebagai teks, tanpa perubahan cara memandang waktu.
Sholat dan Fungsi Koreksi Arah
Sholat bukan hanya mekanisme gugur kewajiban. Ia berfungsi sebagai koreksi arah yang rutin. Lima kali sehari, manusia diajak berhenti dari arus, menata ulang niat, dan mengingat kembali siapa yang sebenarnya menjadi pusat hidupnya.
Di sinilah letak persoalannya: ketika sholat tidak lagi berani menghentikan kita, ia kehilangan fungsi korektifnya. Ia tetap dikerjakan, tetapi tidak lagi cukup kuat untuk mengganggu keputusan, mengubah ritme, atau membatalkan kesibukan yang keliru.
Isra Miraj menunjukkan bahwa kenaikan derajat tidak selalu diwujudkan lewat percepatan. Kadang justru melalui keberanian untuk tunduk secara konsisten, meski itu berarti memperlambat langkah dan menata ulang arah hidup.
Peringatan yang Sering Kehilangan Daya Korektif
Setiap tahun, peringatan Isra Miraj kembali hadir dengan berbagai bentuk. Ucapan disebarkan, acara diselenggarakan, dan tema-tema diangkat. Namun koreksi yang dibawanya sering berhenti di permukaan.
Setelah peringatan berlalu, pola hidup kembali ke bentuk semula. Sholat tetap menunggu sela, bukan menjadi penentu. Di titik inilah Isra Miraj berisiko berubah menjadi agenda tahunan yang aman, rapi, dan disepakati bersama, tetapi tidak cukup mengganggu cara hidup kita.
Renungan yang Menuntut Kejujuran
Jika sholat terasa semakin sempit di tengah hari-hari yang padat, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan ibadahnya, tetapi struktur hidup yang dibangun di sekelilingnya. Isra Miraj tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kejujuran untuk menilai ulang apa yang selama ini dianggap wajar.
Karena sholat tidak dimaksudkan sebagai beban tambahan dalam hidup yang sibuk. Ia hadir sebagai penanda arah. Dan ketika ia terus-menerus ditempatkan di sisa waktu, pertanyaan yang tersisa bukan lagi tentang kelalaian, melainkan tentang siapa yang sebenarnya kita jadikan pusat hidup.
Jika Anda ingin melanjutkan perenungan ini, beberapa renungan dan kata-kata reflektif lainnya mungkin bisa membantu menata kembali cara memandang waktu dan arah hidup.

Posting Komentar untuk "Isra Miraj: Ketika Sholat Bergeser dari Pusat Menjadi Sisa"